Rinduku untuk yang Kurindu
Thursday, 19 July 2012 02:37    PDF Print E-mail
Saat penerbangan Jakarta-Jeddah untuk Umroh pikiranku terbang ke sosok orang yang sering aku rindu. Pertama, wanita yang setia mendampingiku. Dialah yang memoles perjalanan hidupku. Dialah yang sering memanjakan aku. Dialah teman diskusi sekaligus penasihatku. Dia seseorang yang sangat berarti dalam hidupku.

Sebenarnya aku sangat berharap wanita hebat ini bisa mendampingi umroh, tetapi karena satu dan lain hal dia tidak berada di sisiku.  Dialah istriku…

“Sejujurnya aku ingin mengajukan proposal hidupku bersamamu. Aku ingin bersujud di Baitullah bersamamu. Aku ingin thawaf, sai, dan berdoa bersamamu”

“Oh istriku, aku hanya bisa membawamu dalam imajinasiku. Tapi percayalah, cinta dan rinduku bukan hanya imajinasi tetapi merasuk ke dalam relung hatiku. Mengalir ke dalam aliran darahku. Aku ingin selalu bersamamu di semesta dan kelak di kehidupan yang abadi…”

Sosok kedua yang sangat aku rindu adalah seorang lelaki yang aku belum pernah jumpa. Saat lahir ia sudah tak punya ayah. Saat remaja ia sudah berdagang berkeliling ke beberapa negara. Banyak orang terpesona dengan keindahan akhlak dan perilakunya. Ia tak pernah lelah berjuang untuk umatnya. Ia tak silau dengan tawaran tahta dan harta agar ia menghentikan perjuangannya. Lelaki itu bernama Muhammad saw.

Lelaki ini bersedia memaafkan orang-orang yang menghina, mencerca bahkan memusuhinya. Lelaki ini tak pernah menyimpan banyak harta. Ia lebih senang hartanya disedekahkan untuk orang-orang di sekitarnya. Ia sudah dijamin masuk surga tanpa hisab (perhitungan) namun setiap hari masih memohon ampun kepada-Nya.

Saat hidup ia selalu memikirkan umatnya. Saat hendak meninggal dia masih memanggil umatnya, “Umati… Umati.. Umati…” Saat dibangkitkan kelak, yang diingat pertama juga umatnya. Sementara aku, salah satu dari umatnya jarang mengingatnya. Oh betapa tak tahu dirinya aku.

Mungkinkah kelak aku bisa melihatmu? Mungkinkah kelak aku bisa memelukmu? Mungkinkah kelak tempatku tak berjauhan dengan tempatmu? Mungkinkah kelak aku memperoleh syafaatmu. Duhai nabi kekasihku, aku datang ke tanah suci karena cintaku kepadamu. Terimalah cintaku… Terimalah rinduku…

Ya Nabi salam alaika… Ya rosul salam… alaika.. Ya nabi salam alaika… Sholawatullah alaika…

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

 

Add comment


Security code
Refresh