Gaji Sepuluh Koma
Tuesday, 19 October 2010 17:17    PDF Print E-mail

Dalam suatu kegiatan pelatihan, Profesor asal Indonesia bercerita, bahwa pernah dia berbincang-bincang dengan profesor asal Jepang. Dalam pembincangan tersebut profesor Indonesia bertanya ,”Berapa rata-rata gaji guru di Jepang.”

Profesor Jepang mengatakan,”Kami mempercayakan pelajar ditangani oleh guru yang baik, punya dedikasi, disiplin, kasih sayang, keingintahuan yang tinggi terhadap hal-hal yang baru, mencontohkan perilaku yang baek serta memiliki semangat juang (bushido)”. Profesor Jepang menambahkan,”Gaji guru di Jepang , satu bulan gaji bisa untuk biaya hidup selama empat bulan”. Jadi kalo biaya hidup di Jepang satu bulan sebesar sepuluh juta rupiah, maka gaji gurunya adalah empat puluh juta rupiah.

Profesor Indonesia bergumam,” wah besar juga ya”. Selanjutnya profesor Jepang balik bertanya, ”Berapa gaji guru di Indonesia, Prof?” Maka profesor Indonesia mengatakan,”di Indonesia gaji gurunya sepuluh koma, profesor?” Profesor Jepang manggut-manggut, bisa memaklumi kalo gaji guru Indonesia sepuluh koma, maka termasuk besar.

Namun profesor Indoenesia, sebenarnya mau menangis. Karena yang dimaksud sepuluh koma, bukanlah sepuluh koma lima atau sepuluh koma delapan juta rupiah. Tapi yang dimaksud adalah “Setiap tanggal sepuluh, guru Indonesia koma”. Dan semua peserta tertawa.

Terlepas apakah cerita di atas nyata atau sekedar joke dari seorang profesor Indonesia, tapi yang jelas kondisi pendidikan dan guru nasional, jika dibandingkan dengan negara lain, apalagi negara maju, maka masih jauh ketinggalan. Menurut Prof. Dr. H. Mohamad Surya ketua Umum PB PGRI tahun 2007,”Saat ini dunia pendidikan nasional Indonesia berada dalam situasi “kritis” baik dilihat dari sudut internal kepentingan pembangunan bangsa, maupun secara eksternal dalam kaitan dengan kompetisi antar bangsa. Fakta menunjukkan bahwa, kualitas pendidikan nasional masih rendah dan jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara lain. Berbagai kritikan tajam yang berasal dari berbagai sudut pandang terus ditujukan kepada dunia pendidikan nasional dengan berbagai alasan dan kepentingan”.

Dari hasil pengamatan penulis dan juga pengalaman selama Ini, permasalahan guru berkisar kepada kualitas diri, kesejahteraan dan tanggung jawab.

Dari data tahun 2007, hanya 40% dari seluruh guru Indonesia yang sudah memiliki kualifikasi S1/D4. Dan sisanya masih dibawah D3. Bahkan masih ada sekolah yang gurunya berpendidikan SMA/SMK. Belum lagi mereka yang sudah S1/D4, kualitas mengajarnya masih banyak yang harus di up grade. Perlu dilakukan pelatihan, workshop atau seminar yang berbobot. Dalam satu tahun ini, penulis banyak mengisi training dan pelatihan guru. Dari situ saya melihat, para guru memang perlu mengambil gaya seorang trainer. Dalam menerangkan pelajaran, guru harus bergerak, gunakan intonasi suara naik dan turun, gunakan gerakan tangan dan badan. Sebelum pelajaran dimulai, guru mengawali dengan aktifitas cerita atau sesuatu yang “mengejutkan”, sehingga siswa antusias mengikuti pelajaran.

Dari sisi kesejahteraan, masih banyak kesenjangan antara guru di kota dengan di desa. Antara guru PNS dengan guru honorer. Antara guru negeri dan swasta. Meski pemerintah sudah membuat kebijakan tunjangan fungsional dan juga sertifikasi, namun dari segi nilai masih belum signifikan. Dan memang kebijakan peningkatan kesejahteraan guru, harus diiringi dengan perubahan paradigma guru itu sendiri. Dan kalau bicara perubahan paradigma, maka membutuhkan waktu untuk mencapainya. Harus dimulai dari pemerintah dan dunia pendidikan tinggi yang mencetak para guru dengan paradigma baru. Pemerintah pusat dan daerah harus juga memperhatikan peningkatan kualitas dan mutu guru dengan berbagai pelatihan yang berkualitas. Suatu pelatihan yang dirancang dalam skala 30-40 per-batch agar hasilnya lebih maksimal. Memang pelatihan berkualitas dan skala jumlah ideal akan menyedot biaya. Namun jika dibandingkan hanya ‘menggelontorkan’ uang saja buat kesejahteraan tanpa upaya-upaya sistematis peningkatan kualitas guru, justru hal tersebut malah berakibat pemborosan.

Pernah suatu hari, seorang anak melaporkan kepada wali kelas,”Bu si A berantem dengan si B di kelas”. Maka sang wali kelas buru-buru masuk ke kelas. Dan ternyata di kelas ada guru yang sedang duduk dan asik dengan dunianya. Kejadian seperti ini hampir sudah jamak di sekolah-sekolah. Guru kemana, dan anak kemana. Belum lagi, guru yang santai-santai saja di ruang guru, padahal sudah waktunya masuk kelas. Sudah masuk kelas, eh malah menyuruh salah satu murid mencatatkan buat temannya di papan tulis. Sungguh fenomena yang kurang baik. Dan hal ini adalah wujud dari rendahnya tanggung jawab sebagai seorang guru. Perlu pembinaan, pelatihan, motivasi dan sanksi dalam rangka meningkatkan tanggung jawab sebagai guru.

Untuk itu guru sendiri harus mau berubah. Perubahan karena suatu kesadaran, yang muncul dari dalam sanubari. Guru yang punya tekad menjadi guru efektif, kreatif dan inspiratif. Motivator nomor satu Indonesia, Andre Wongso menulis sebuah kisah tentang perubahan paradigma interen akan menjadikan hidup penuh senyum dan bahagia. Cerita ini patut dijadikan renungan bagi para guru untuk meyakini bahwa profesi guru profesi yang mulia dan siap merubah cara pandang seorang guru. Dan tidaklah mengherankan jika kemudian guru bersedia merubah paradigma, dan selanjutnya fokus memberi dan penuh keikhlasan, maka akan merasakan keberkahan. Dan guru yang seperti itu, Insya Allah to have atau materi akan mengikuti seiring dengan peningkatan kapasitas dirinya yang ditopang dengan keikhlasannya.

* dimuat di Harian Radar Bekasi dalam kolom Inspirasi Guru FADELI SUPRIYADI Konsultan Pendidikan/Trainer Alumni TFT II

 

Add comment


Security code
Refresh